Posts in Write

Friends

They have been my friends since college; however, I rarely talk about them. I met them in our first semester, precisely. They are like twin sisters, same body shape, heigh, near absence number, even their birth month is the same too. I can say, I like the third person between them. Because, when we had group tasks containing only two people, they would be told to choose another partner but only one of them together with me until they graduated. We didn’t graduate at the same time because of some condition, but I adore you dear, because if I’m in your shoes at that time, I don’t know if I can bear it or not.

We rarely meet too, because we have different activities. As I remember, we only meet once in a year even less (I mean meet with complete formation) and we just have one holiday together. All I can say is, whatever our circumstance, I am blessed that I met you and became friends. So, where is our next holiday?

New Hello

Yesterday was the last day for my two office colleagues. Kinda sad because they are not just colleagues but they are my friends. I want to express my gratitude and feelings about the two of you within my writing. I can not say it directly to you because I know I can not hold it.

First sister, I met you 4 years ago. My first impression is that you are beautiful, stylish but a little “jutek” later I know, it is your face setting. You taught me a lot, not only related work matters but about life and everything. How I need to lower myself before attacking with subtle action, about to calm and not to rush and many more that I can not mention one by one. You were the first person that I told about my mental problem. You did not give me the expected response, you supported me and said it was good because I realized my problem, believe me when you said it, I cried like a baby. You encourage me to push my limit and achieve my dream because you believe I can do more than I’m doing right now. My favorite moment with you is our random talk, because we can talk about everything, work – check, investment – check, education – check, shity talk – of course check, dreams – check, books – check. I will miss you sis. See you there? 

Second sister, or usually I call you Bund. I met you 1.5 years ago, not a long time. How do I describe you? You are very patient, have mother instinct (yeah, because you are our bunda) and our second “princess”. You were the first person I called when I cried and I can not hold it. I didn’t know why I called you at the moment, maybe deep down, I know I can trust you. After that the rest is history. I will miss our month end period, our random talk and many more. Please don’t get sick too often Bund. See you on top.

Lastly, it is not a goodbye but a new hello.

Book Review : Tentang Kita yang Tak Mengerti Makna Sia – Sia

Penulis  : Pradnya Paramitha

Penerbit : GetBooks

Tahun    : 2021

I know it is supper late review. but here’s we go! Kayanya sudah rahasia umum kalau saya tuh bucin banget sama karya – karyanya Pradnya. Setelah membaca buku ini makin menjadi – jadi. Tanpa banyak basa – basi marilah kita mulai review ini.

Sinopsis

Sudah jatuh, tertimpa tangga, terinjak-injak pula. Barangkali itu kiasan yang tepat untuk hidup Nana. Di usia 28 tahun, ia kehilangan pekerjaan. Kantornya terus menerus merugi dan akhirnya gulung tikar. Jangankan mendapat pesangon, gajinya selama 3 bulan terakhir saja belum dibayarkan.

Setelah kehilangan pekerjaan, Nana juga diusir dari kontrakan karena tidak bisa membayar. Lucas, pacarnya selama empat tahun terakhir, juga tak membantu. Malahan pria itu menikamnya di saat-saat terburuk.

Menjadi pengangguran, tak punya tempat tinggal, dan sepaket tagihan serta utang yang harus dilunasi, membuat Nana kalang kabut mencari solusi. Satu-satunya orang yang bisa membantu adalah Jagad, sahabat konglomeratnya di bangku kuliah, yang selama ini ia hindari.

Nana tahu bahwa menerima bantuan Jagad bukanlah pilihan yang bijak. Namun, untuk bertahan hidup saat ini, Nana memang tak punya banyak pilihan, bukan?

Review

Awal membaca buku ini saya dibuat bertanya – tanya, kenapa sih judulnya harus ada kata “sia – sia” kan jadi negative thinking, tapi pas diending judulnya pas banget sama isi novelnya.

Kalau saya bisa nanya langsung sama kak Pradnya, pengen deh nanya “Kak, lagi ada masalah apa sih? Kok yo, bikin karakter disiksa mulu.” Dari awal Nana tuh diceritain udah kena PHK, nggak punya tabungan, eh ditambah diputusin sama cowoknya.

Solusinya udah ada kok tinggal ditemukan. Coba dipikir dengan kepala dingin aja. Tarik napas dalam – dalam, dan kalau terlalu lelah, duduk dulu aja nggak apa – apa. Ini bukan waktu yang tempat untuk menyerah. Saya yakin kamu bakal tetap bisa berdiri tegak

Buku ini tuh termasuk slow building, kita pelan – pelan diajak kenalan sama karakter utamanya, Jagad dan Nana, dan juga karakter sekitarnya. Masalahnya pun bahas pelan – pelan, kaya lagi pakai skincare, satu per satu layer masalahnya dimunculkan dan diselesaikan.

Sepanjang membaca buku sini, saya banyak menghela napas, diam dulu, tergoda buat rehat, karena rasanya nggak sanggup buat lanjutin, tapi kenyataanya buku ini habis saya babat dalam beberapa jam aja. Cara Pradnya bertutur tuh makin lama makin keren, biarpun dibuat berdarah – darah sama ceritanya, tapi I couldn’t stop for read this book, even I read twice in the short time.

Penokohannya juga oke, nggak saja dideskripsikan secara visual, tapi juga secara emosional. Jadi kita seperti mengenal tokohnya. Kita bisa simpati abis – abisan sama Nana dan rasanya mau peluk dia, dan kita juga bisa jatuh cinta abis – abisan sama Jagad. Nggak cuma tokoh utama aja, tapi juga tokoh – tokoh pendukungnya. Sebut saya mami Liliana yang mulutnya minta ditujes. Semua adegannya juga nggak sia – sia, ada maksud dan tujuannya. Eh tapi ku berpikir, kenapa tiba – tiba Restu hilang begitu  aja?

Saya suka sama bantern Nana dan sahabatnya, lucu tapi sarkas tapi benar juga. Monolognya Nana juga, bikin ketawa – tawa miris. Bagian yang saya paling suka dari buku ini, tuh epilog. Email Jagad, dia rela mengorbankan dirinya demi kebahagian Nana. I had ugly cry when read this part. Makanya, I had unpopular opinion, saya lebih suka versi ending di buku, lebih pol sakit dan berdarah – darah.

“Nana, kadang jatuh cinta itu nggak pake tipe. Emangnya beli rumah, tipenya kudu disesuaikan sama bujet?”

Bukan Pradnya rasanya kalau nulis novel tanpa ada nilai – nilai yang diangkat. Yang saya tangkap ada beberapa :

  • Punya tabungan dan dana darurat itu perlu gengs. Apalagi dalam kondisi saat ini. We will never know the future. Jangan sampe kejadian kaya Nana, karena kita bukan Nana yang punya Jagad 😆😆.
  • Jangan terlalu sebel sama orang lain, siapa tau di lain hari kita butuh orang itu.
  • Cowok kaya Lukas tuh banyak banget.
  • Tentang Restu dan “pikirannya”. Sadly, masih banyak yang memandang status perempuan seperti Restu.
  • Tentang status sosial. Yeah, itu semua masih ada dan nggak bisa dipungkiri.
  • Biarpun hidup udah bikin kita berdarah – darah, tapi percaya bahwa semua nggak ada yang sia – sia.
  • You can choose your own happiness.

Overall, buku ini saya sangat rekomendasikan untuk dibaca. Karena sangat spicy, chruncy dan juga sweet. If you are romance lovers, you should read this one. Pesan saya, siapin tisu sama pandol 😆😆.

Aku tidak wajib melakukan ini dan itu untuk membuat seseorang mencintai dan memilihku. Namun aku wajib mengupayakan banyak hal agar aku bisa mencintai dan selalu memilih diri sendiri.

My 2021

I know 2021 isn’t over yet, but I want to write about my journey this year. It’s not a good year for me, but I hope yours is better than mine.

Started in January on my sister’s wedding. Yeah, I was officially “dilangkahi”. Was I sad or had a hard feeling? No, of course not. I don’t care about that anymore, as long as I’m happy, I don’t care. Life is somehow funny, because after the party, my dad got Covid. Yeah, my first experience with Covid. 

I have been battling with mental health issue. This time is worse than before. It came suddenly or I’ve just ignored  the sign from my body and my brain. At that time, I couldn’t control my mind and my body. I couldn’t do anything. I just wanted to sleep and cried all the time.

What were the reasons? I guess there were some. Maybe I was just tired, bored and under so much work pressure. Yeah, my work condition was a mess but one thing for sure, my childhood trauma came again. I had a session with my psychologist to reduce my symptoms. I made the decision to tell this to some office mates and my superior that I had a mental health issue. Some supported me and some said that I wasn’t close enough with God. Yeah, expected response.  Am I better now? I’m trying to. I’m trying to keep sane.

This year, I try something new. Driving and crocheting. These are challenging. I need to fully concentrate when I do that. I read more books than last year. The one that I was really thankful for was that I found a hidden-gem writer. She became one of my favorite authors and friends (if she allows me to call her friend). I found a fighting spirit from her fictional character and I can talk anything to her. She listened to my random talk and even replied to it. The most memorable moment with her was when I received her text “Kak, thank you for buy my story”. It meant a lot for me. I remembered that moment. Moment when I felt stupid, useless and all I did were wrong even someone said to me “kenapa sih kerjaan lo nggak ada yang bener dan bikin masalah mulu?”, than insomnia hit me hard, I read her extra part story and day after that I got that text. A simple thank you but it meant a lot to me. I felt appreciated when I read it and I got tears in my eyes. It is still related to books, my friend and I make an online bookstore. We sell books based on our favorites. Still small but I wish it could be bigger. 

Not a good year, but I’m happy to realize that I am strong enough.

Book Review – Retrocession

Penulis : Ayunita Kuraisy

Penerbit : Elex Media Komputindo

Tahun : 2021

Actually I’m a new reader for this story. Saya nggak mengikuti versi on going di platform online, tapi di grup sering banget direkomendasikan, karena penasaran saya baca beberapa bab, hasilnya? Tidak saya lanjutkan, bukan karena nggak bagus yah, saya punya kelemahan jika membaca melalui gadget, daya tahan mata saya sangat minim. Begitu mendekati masa PO, semakin gencarlah dipromote buku ini dan beberapa teman meminta bantuan saya untuk ikut PO. Rumah saya biasa menjadi tempat transit untuk buku – buku PO (demi gratis ongkir), jadi yah sekalian bantu teman, saya pun ikut membeli bukunya. Lho kenapa mukadimahnya panjang banget?

Sinopsis 

Persahabatan antara laki – laki dan perempuan kalau nggak berakhir pacaran yah ditinggal nikah duluan. Aku ingat pertama kali kesini bareng Arga. Waktu itu aku belum lama ditempatkan di divisiku. Arga langsung cepat akrab denganku, lalu mengajakku kemari. Mungkin itu pertama kali aku sadar akan cocok sama dia. Mulai dari bicara soal risk management dan segala perhitungannya yang jelimet, sampai membahas film favorit masing – masing. That’s the beginning of our friendship. Yang aku ingat tempat ini menjadi salah satu tempat nongkrong favorite kami. 

And now I’m here. With another best friend. In a different situation. Without him.

“Lo tau kenapa gw sempat mikir Arga was the one for you? Karena gue tau lo, Alyanata. Nggak banyak cowok yang bisa dapat perhatian lo. Dari luar, appearance lo nyaris tanpa cela. Secara karier dan pekerjaan, lo bahkan berhasil dapat posisi jauh lebih baik dibanding orang lain seumuran lo. Lo kalem dan terkendali, kesamaan yang gue lihat pada Arga. Makanya gue sempat mikir emang udah takdir kalian buat ketemu, berteman dekat, dan….”

“Nggak berjodoh” potongku dengan senyum pahit. ”Takdir gue dan dia cuma berteman, Fan. Gue hanya pernah berharap lebih.”

Sebenarnya harapan itu masih ada, at least sampai di parkiran malam itu.

Review 

Saya membaca buku ini dalam kondisi kangen. Bukan kangen sama orang, tapi kangen sama suasana kerja dan kehidupan Sudirman dan sekitarnya (nggak kangen sama kerjaannya). Dan hasilnya, saya suka dan mengobati rasa kangen saya.

Buku ini tuh khas chikit banget, metropolitan lifestyle, light, dan bikin giggling sendiri. Buku ini menggunakan dua POV dari tokohnya, Radit dan Alya, which is salah satu favorite saya dalam membaca, karena saya bisa tau isi pikiran dari kedua tokohnya. Penggambaran tentang pekerjaannya detail banget, saya bisa membayangkan gimana rasanya jadi banker atau konsultan. Ada kata – kata Radit yang familiar di telinga saya, karena sering mendengar itu langsung.

Kalau hasilnya kayak gini, ngapain mereka cape – cape ngebayar kita disaat mereka bisa ngerjain dan ngitung sendiri.

Konflik dari buku ini mostly datangnya dari hati dan diri sendiri. Apa ada pengaruh dari luar? Yah, baca sendiri buku ini untuk tau detailnya.

Mengenai karakter, Radit disini digambarkan sebagai sosok yang high quality, cakep, pintar , kaya, good background dan suka olahraga. Pokoknya husband material banget. Untuk Alya, awalnya saya dibuat sedikit kesal, kok kesannya dia susah banget sih buat move on, padahal di depannya ada sosok lelaki seperti Radit. Well, namanya juga urusan hati yah, lebih rumit dari rumus matematika. Tapi diluar itu karakternya Alya tuh flawless banget, kuat tapi lembut, punya pendirian dan full of love. 

Hati seseorang tidak seperti model matematika. Kalau judgment nya merusak hasil, bisa diperbaiki rumus dan metodenya.

Hal yang saya suka pada buku ini adalah latar belakang temanya. Dimana tokoh yang kelihatannya sempurna, husband and wife material, cukup umur tapi masih single dan belum menikah. Karena menurut saya itu pilihan, kita berhak memilih dan memutuskan kapan untuk berkomitmen. Masalah hati is not as simple as that.

Ah, ada hal menarik lain di buku ini Radit’s geng is kinda something. Persahabatan Alya dengan Fanny juga menarik untuk disimak.

Namun, ada hal yang saya kurang suka pada buku ini, penyebutan brand yang sering kali berulang, mungkin juga pengaruh brand sepatu yang dipakai Radit merupakan kompetitor dari tempat saya bekerja (lho). Saya juga menemukan beberapa typo dan kata – kata yang tidak konsisten.

Terlepas dari semua itu, saya suka dengan buku ini, dan saya rekomendasikan untuk kamu yang mau jalan – jalan ke SCBD, menyusuri kehidupan banker dan konsultan, serta ikut menemani perjalanan hati mereka. 

Sekali lagi, selamat untuk kelahiran ‘anak’ pertamanya kak Ayoouu well done. I will wait for your next book.

World is Big, kita ajah yang mainnya kurang jauh

Mainnya yang jauh, supaya bisa foto – foto buku dengan cantik.

Book Review – Ephemera

Anggap saja ini wilayah sekitar rumahnya Venus dan Luna
Penulis : Akaigita

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun : 2020

Saya sudah mendengar nama Akaigita semenjak 2018 dan buku pertama beliau sudah sering saya baca dan ambil pada saat saya ke Gramedia ditambah dengan rekomendasi dari penulis favorite saya, belum juga menggerakan niat saya untuk membeli dan membaca buku beliau. Tergiur  oleh diskon yang ditawarkan, akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku ini. Apakah langsung dibaca? Oh tentu saya tidak, masih masuk ke TBR yang tidak ada habis – habis nya.

Buku ini adalah buku kedua dari Akaigita yang saya baca, sebelumnya adalah Enigma Pasha. Sejak saat itu, saya menasbihkan diri sebagai bucinnya Akaigita, tulisan – tulisan dan buku – bukunya akah menjadi prioritas.

Sinopsis 

Rumah di tepi rawa itu menyimpan bahaya. Dari kucing – kucing yang menghilang tanpa jejak, kerisik aneh di langit – langit pada malam hari, hingga keberadaan makhluk setinggi pohon kelapa yang menjaga tanah itu.

Suatu hari, Venus – anak perempuan penghuni rumah – terjatuh ke sumur dan koma. Saat dia siuman, dia mengaku terpeleset karena kaget melihat ular besar di sana.

Lantas mengapa Adam, sahabat karib Venus, dikucilkan dan dituduh mendorong gadis itu ke sumur? Mengapa pula Luna, adik Venus yang serbatahu malah diam seribu bahasa?

Rumah di tepi rawa itu tak hanya menyimpan bahaya, tetapi juga rahasia gelap yang tak boleh menyebar.

Review 

Buku ini diceritakan dari sudut pandang empat orang, Venus, Luna, Adam, dan Herman. Selama membaca buku ini saya dibuat terpana oleh kata – katanya, world bulidingnya juara, dialog – dialognya cerdas. Sepanjang membaca buku ini saya tidak memikirkan akan plot dan bagaimana endingnya, saya sangat menikmati proses membacanya, sehingga tidak sadar tau – tau sudah di halaman terakhir.

Ah ya, tentu saja selama membaca buku ini, perasaan saya diaduk – aduk seperti saat naik roller coaster. Bisa tertawa di awal kemudian dihempas pada saat yang sama.

Membaca buku ini juga membawa nostalgia ke kenangan masa kecil saya, bermain bersama teman dan kehidupan di sekolah walaupun saya tidak bisa bermain di padang rumput yang luas.

Masing – masing dari kami membawa es sirop dan simoay dalam bungkusan plastik. Tidak sehat tapi asik.

Buku ini juga mengangkat isu tentang keseimbangan alam dan ekosistem serta kesenjangan yang terjadi antara si kaya dengan si miskin yang erat kita jumpai dalam kehidupan sehari – hari.

Area hijau di kota ini semakin menipis, bangunan tinggi semakin banyak, pemukiman kumuh menjamur. Kami hanya ingin menjadi penyeimbang. Kami hanya berusaha menjaga setitik paru – paru kota yang tersisa agar nggak benar – benar habis.

Hal lain yang saya sangat sukai dari buku ini adalah tokoh – tokohnya. Tidak ada semua tokoh yang sempurna, semua perbuatan yang mereka lakukan ada sebabnya. Tidak ada yang murni salah dan benar. Mereka punya kebenaran versi masing – masing.

Banyak yang menyukai  Herman pada buku ini, tapi Luna mendapatkan tempat khusus di hati saya. Saya banyak bersimpati terhadap dia, bagaimana dia selama ini diperlakukan oleh orang – orang sekitarnya. 

Tapi aku nggak punya apa – apa, punya teman saja dilarang. Aku harus hidup gimana?

Akhir kata, buku ini saya rekomendasikan untuk kamu yang ingin membaca cerita remaja, yang penuh petualangan dan misteri.

Tubuh kita bisa terbentuk dan hancur dengan mudahnya, tapi pikiran kita tidak. Pikiran kita kekal selama kita mengutarakannya.

 

PS : Quotes paling favorite :

Kamu pantas bahagia atas kepunyaanmu sendiri, Luna.

 

30 Hari Menulis – Thank You 2020

Thank You 2020
Thank You 2020 

Tidak ada yang menyangka bahwa tahun 2020 sebagian besar waktunya akan saya habiskan di rumah saja. Saya masih ingat keputusan dari kantor yang menyatakan bahwa semua kegiatan akan dilakukan dari rumah. Awal – awal masih tidak biasa dan masih ada penyangkalan yang berbuntut saya menjadi kalap dalam berbelanja. Mungkin itu salah satu pelampiasan bagi saya juga.

Covid 19 ini juga menggagalkan salah satu rencana besar saya yaitu solo traveling ke Jepang, yang sudah saya rancang sedemikan rupa sebagai kado untuk diri saya sendiri di usia 30 ini.

Apakah hanya kekecewaan dan kegagalan yang didapat pada tahun 2020 ini? Tentu saja tidak, banyak hal – hal positif yang saya dapatkan selama 2020 ini.

Hal pertama adalah saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Jika dalam kondisi normal, saya hanya bertemu pada saat berangkat kerja atau pada saat pulang (itu juga kalau tidak lembur) dan weekend saja, tetapi kali ini full bisa bertemu seharian, terutama pada saat bulan Ramadhan. Saya bisa merasakan kesepian yang ibu saya rasakan jika beliau berbuka puasa sendirian. Hal itu yang beliau sampaikan kepada saya pada saat kami selesai sholat idul fiti di rumah. I promise you mom, next Ramahdhan i will stay more at home.

Yang kedua, tabungungan saya cepat bertambah, yang karena alokasi dana untuk liburan tidak terpakai jadi posnya saya pindahkan ke tabungan saja. Hehehehe..

Ketiga tentu saya dalam hal membaca, saya senang sekali tahun ini saya membaca begitu banyak buku, dari berbagai genre serta mengikis TBR saya yang tidak ada habisnya.. Hehehehe. Masih dari segi perbukan, dari buku saya menemukan teman – teman baru, teman yang satu pikiran dengan saya dan juga beberapa yang menginspirasi saya.

Sekali lagi, terima kasih 2020 atas semua pelajaran yang kamu berikan kepada saya. 

Book Review – Kala Langit Abu – Abu

Kala Langit Abu - Abu
Kala Langit Abu – Abu

Penulis : Pradnya Paramitha

Diterbitkan 2020 oleh PT Gramedia Pustaka Utama – M&C

Sinposis :

Jatuh Cinta pada Langit Aswandru itu mudah. Bahkan sejak pertama kali bertemu, Raira Sore Pambayun sudah menemukan getaran di hatinya.

Awalnya semua terasa sempurna karena langit juga membalas perasaanya. Namun segalanya berubah saat Raira tahu Langit telah menghamili sahabatnya sendiri.

Riara yang patah hati, menyingkir dari kisah cintanya yang usai bahkan sebelum dimulai. Tapi situasi menjadi rumit karena Langit tidak membiarkannya pergi.

Ada rasa yang berbeda ketika buku ini terbit, yaitu rasa haru dan kecewa. Haru karena akhirnya penantian akan terbitnya buku ini terbayarkan, dan kecewa karena biasanya setiap kali karya dari Pradnya terbit sudah menjadi ritual bagi saya untuk mengunjungi toko buku untuk mengambil foto – foto atas buku beliau, namun kondisi saat ini yang masih tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut membuat saya harus puas dengan menuangkan dengan bentuk tulisan.

Review :

Gila!! Itulah kalimat terakhir yang terlintas dipikiran saya ketika selesai membaca buku ini. Word Building penulisnya “jahat” dan bisa menggiring opini sampai saya merasa bingung, kesal, marah, tetapi juga simpati atas tokoh – tokohnya. Sifat asli para tokohnya tidak diperlihatkan langsung di awal tetapi kita harus menembus satu per satu lapisannya untuk mengetahuinya. Semakin mendekati akhir, konfliknya menjadi semakin intense disertai pula dengan sebuah fakta yang tidak terduga.

Buku ini menggunakan sudut pandang Raira, dalam penceritaanya dimana saya bisa merasakan kemiripan sifat saya dengan Raira, yaitu sama – sama impulsif. He..he..he.. Celetukan dalam hati Raira, yang membuat saya tertawa bahkan maupun meringis.

Minta maaf, lebaran masih lama Kak.

Meet our Hero, Langit. Gimana yah mendeskripsikan tentang Langit? Sejujurnya saja kesal dengan sikapnya, yang menurut saya serakah, plin plan dan menganggap semua masalah yang berhubungan dengan dirinya adalah tanggung jawabnya. Langit juga digambarkan sebagai everybody man.

Langit Aswendaru itu nggak punya waktu untuk mikirin dirinya sendiri. Langit selalu tenang dan ekspresinya terkontrol.

Tetapi Langit juga manis dan Loveable, dia ingat hal – hal kecil tentang Raira dan orang pertama yang datang waktu Raira sakit.

Apakah tokoh romansanya hanya Raira dan Langit? Oh tentu tidak, ada juga Bang Yos sang pencuri perhatian, si ‘cowok cantik’ yang bisa membuat perempuan di sekitarnya minder. Interaksi antara Yos dengan Raira juga menghibur.

Tanpa menjawab kalimatku, Yos merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan ponselnya. Sejenak dia mengetik sesuatu di sana. Nggak lama kemudian, kurasakan getaran di ponselku. Mataku seperti mau copot saat kudapati chat dari Yos : Nice info. Thanks.

Di buku ini tidak hanya menceritakan tentang Raira dan Langit saja tapi juga dengan orang – orang di sekitar mereka. Saya penasaran dengan kisah adiknya Raira dan Senja.

Tema yang diangkat pada buku ini menurut saya sangat pas dengan situasi saat ini terutama masalah yang dihadapi oleh Senja. Sering kali kita terjebak dengan sesuatu yang dianggap ‘normal’ tetapi tidak seharusnya dilakukan atau tanpa sadar kita ikut menghakimi.

Karena pertama – tama dia pasti akan ditanya pakaian apa yang dikenakan, jam berapa dia berada di sana, untuk apa dia berada di sana dan pada akhirnya apakah dia menikmati hubungan itu?

Lalu tentang Langit yang menjadi ‘everybody man’ yang selalu menunjukan ekspresi senang, dan bahagia padahal dia juga manusia biasa.

Langit selalu sembunyi saat dia bersedih. Aku benci pribadi Langit yang seperti itu. Bagaimana cara memberitahunya bahwa dia itu juga manusia biasa? Kalau dia berhak sedih, marah dan kecewa? Kalau dia juga berhak menunjukan bahwa dia nggak baik – baik saja? Kalau dia nggak perlu sembunyi untuk menampilkan emosinya ini?

“It’s okay to be not okay, sebuah pengingat untuk diri saya sendiri”

Overall saya suka banget dengan buku ini. Mulai dari perkembangan karakternya, tema yang diangkat, kalimat – kalimat yang quotable, penyelesaian masalah serta ending yang realistis.

Cinta pun harusnya tetap berjarak. Jarak ini adalah penghargaan dan ketulusan sehingga orang yang dicintai tetap dipandang sebagai pribadi yang utuh, dengan segala hak – hak dan kedudukan yang setara. Bukan seperti barang yang kita miliki sehingga apa pun dari dirinya adalah hak kita.

Tentang Waktu yang Tepat

Photo by Moose Photos from Pexels

Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri walimahan seorang temman, yang menurut saya perjalanan untuk menuju kesana tidak terduga dan cukup unik. Sepengetahuan banyak orang dia sedang menjalani hubungan serius dengan si A, lalu saya menerima undangan dirinya dengan si B, yang notabenenya si A dan B itu saling kenal dan berteman. Banyak yang bertanya kepada saya untuk memastikan hal tersebut. Apa benar dan kenapa bisa? 

Menurut hemat saya, yah semuanya mungkin karena semua itu sudah dalam ‘pengaturanNya”.

Sebuah catatan juga untuk saya, jika waktu dan orangnya sudah tepat maka akan dipertemukan. Tidak usah terburu – buru atau risau, nikmati saja semua prosesnya.

 

 

Book Review : Hello Mello

Hello Mello

 

Akhir – akhir ini saya kembali menggemari buku dengan tema remaja, padahal beberapa tahun lalu buku dengan tema tersebut merupakan salah satu yang saya hindari. Kenapa? Entahlah, saya juga bingung. Begitu kak Citra Novy menggumumkan PO untuk buku terbarunya, Hello Mello, tidak butuh waktu yang lama bagi saya untuk memutuskan untuk ikut PO.

 

Judul : Hello Mello

Penulis : Citra Novy

Penerbit : Elex Media Komputindo

Tahun Terbit : 2020

 

Buku ini bercerita tentang Arin yang melihat Adra sebagai cowok paling ganteng, lucu dan bercahaya kayak karakter – karakter di Webtoon. Namun, sejak Jejen membacakan surat balasan untuk Adra di depan kelas, semua itu berubah, Arin jadi membenci Adra karena menolak cintanya.

Setelah tragedi itu, Adra jadi sering memperhatikan Arin. Awalnya dia kira karena perasaan bersalah namun tanpa dia sadari, dia telah menaruh perasaan pada Arin. Saat dia mulai mendekati Arin, Ganesh, sahabatnya mulai mendekati cewek itu juga.

 

Review 

Saya tidak berhenti tertawa hingga meneteskan air mata saat membaca buku ini. Kata – kata dan kelakuan Adra dan gengnya lah yang menjadi penyebabnya, terutama Jejen yang super – super absurd.

Kenali gue lebih dalam, Ray. Karena ada pepatah yang mengatakan, tak kenal maka sekali dayung dua katak dalam tempurung yang ringan sama dijinjing.

Buku ini tidak hanya buku remaja dengan kisah cintanya saja, tetapi juga ada haru dan segala masalah di dalamnya. Mulai dari konflik antar teman, keluarga maupun orang tua, penerimaan terhadap masalah yang terjadi serta tentang cita – cita.

 Kenapa gue harus pinter akademik sih Dra? Buat gw itu kan susah. Jadi pinter itu kan susah, Dra. Jadi yang orang tua gue mau itu… susah.”

Ada bagian di buku ini yang membuat saya menangis yaitu dialog antara Arin dengan Ayahnya. Pada bagian ini saya suka sekali dengan bahasa Kak Citra yang mengurai masalah yang berat tetapi dibahas dengan cara yang ringan. Namu, hal itulah yang membuat saya semakin mengharu biru.

 “Cepat banget rasanya, melihat kamu sudah sebesar ini. Papa jadi agak sedih, ternyata papa sudah tua.”

Ada satu kekurangan pada buku ini, kapal saya tidak berlayar. Sedih! Namun saya tetap puas karena saya bisa memahami alasan dibalik pilihan Arin dalam memilih.

Buku ini saya rekomendasikan untuk kamu yang mau membaca buku remaja yang penuh dengan tawa.

PS : Sesudah membaca buku ini saya langsung makan semangka