Book Review : After Wedding

After
After Wedding

 

Penulis : Pradnya Paramitha

Diterbitkan 2016 oleh Elex Media Komputindo

ISBN : 978-602-02-9860-3

 

 



Reya Gayatri tak pernah menduga bahwa keputusannya menikah dengan celebrity cheaf bernama Radina Alief Pramoedya merupakan keputusan paling gila dalam hidupnya. Selama 30 tahun, Reya terbiasa dengan hidup yang tertata. Tetapi, kini, hidup dosen muda jurusan Ilmu Politik itu seperti roller coster.

Sebagai public figure, Rad terbiasa bertemu dengan berbagai macam orang dan tau bagaimana cara berhadapan dengan mereka. Tetapi tidak untuk Reya. Rad jadi sering kewalahan dan mengehela nafas frustasi bahkan sejak malam pertamanya.

Rad juga tidak menyangka, perlahan – lahan, kehadiran reya mengancam segenap benteng pertahanan diri atas cinta juga menggoyahkan janji pada masa lalu yang ia ikrarkan sendiri.

Jangan jatuh cinta pada saya, maka kamu akan baik – baik saja. [Rad]

Mereka tidak menikah karena dipaksa. Ini adalah keputusan bersama. Tetapi ternyata pernikahan bukan hanya soal menggelar resepsi dan perubahan status suami istri saja. Sanggupkan Rad dan Reya mempertahakan keputusannya?

Review ini sudah saya tulis semenjak satu tahun yang lalu pada saat saya baru selesai membacanya tetapi karena kemalasan saya yang berkepanjangan baru lah saya memutuskan untuk menulis ulang setalah reread buku ini seminggu yang lalu.

Wow.. Itulah tanggapan saya sewaktu membaca bab – bab awal yang disuguhi oleh perdebatan tentang cinta, pernikahan dan komitmen antara kedua tokohnya. Mulanya terasa berat sewaktu membaca bagian itu, maklum pada saat membaca buku ini saya baru saja sembuh dari reading slump yang berkepanjangan jadi kemampuan saya untuk mencerna tulisan juga masih sedikit lambat. Membaca buku ini tuh seperti menjawab pertanyaan – pertanyaan yang sering terbesit dipikiran saya tetapi tidak bisa diungkapkan dan beberapa diantaranya saya mendapatkan jawaban dari buku ini.

Ada beberapa hal yang saya suka di buku ini. Pertama adalah sentilan yang banyak terjadi disekitar kita. Dinarasikan pada alasan Reya yang memutuskan untuk menikah  dengan Rad karena adiknya akan segera menikah, maka orang – orang disekitarnya mulai bertanya – tanya dan sedikit mendesak untuk menikah agar tidak dilangkahi oleh adiknya dan adanya pernyataan yang diungkapkan oleh kerabatnya sendiri bahwa untuk apa perempuan sekolah terlalu tinggi.

Kedua adalah karakter yang digambarkan pada buku ini sangat manusiawi. Kita bisa merasakan kagum sekaligus kesal pada tokohnya seperti layaknya kehidupan sehari – hari.

Reya : perempuan mandiri, tangguh, cerdas dan independen tetapi dibaliknya bisa bersikap implusif, baper dan galau. Ada satu line Reya yang sangat berkesan menurut saya.

Kalau pilihan kamu menyakiti saya, it’s okay. Lukanya hanya satu kali. Itu jauh lebih baik daripada saya terus berada di dekatmu dan terluka berkali – kali.

Menurut saya disini Reya bersikap sangat berani. Memilih untuk merasa sakit hanya sekali dengan cara meninggalkan Rad dibandingkan harus bertahan karena banyak diantara kita terutama permpuan yang bertahan dengan pasangannya meskipun sudah disakiti berkali – kali. I really adore you Reya.

Rad : berkomitmen dan setia meskipun setianya sampai membuat saya kesal.

Kinanti : mungkin banyak pembaca yang tidak suka dengan karakternya tapi saya bisa merasakan simpati terhadap dia. Ini salah satu kelebihan penulisnya, bisa menggambarkan tokoh yang dianggap antagonis dengan sisi kemanusiawiannya.

Eksekusi pada cerita ini juga bagus, tidak bertele – tele, seperti selesainya hubungan Reya dengan mantannya Hario, yang menunjang karakter Reya. Tidak ada plot twist pada buku ini, setiap permasalahan ada penyelesaiannya pada bab – bab berikutnya. Ada satu bagian pada buku ini yang membuat saya menangis dan menarik nafas dalam – dalam.

Reya menggigit bibir. Terlihat jelas bahwa reya berusaha keras untuk menahan tangisnya meskipun gagal. Perlahan air mata itu jatuh bersusulan, hingga tak bisa dikendalikan lagi.

Buku ini saya rekomendasikan untuk kalian yang ingin membaca tentang pernikahan yang disebabkan pengaruh lingkungan, untuk yang mencari arti dari kata komitmen ataupun untuk kalian yang sudah sering mendapatkan pertanyaan “kapan kamu nikah?”

Berada di dekatmu, saya seperti sedang berada rumah peristirahatan. Nyaman dan damai. Kamu seperti rumah yang selama ini saya rindukan. Kamu adalah kebahagiaan, yang membuat saya merasa berdosa jika tidak menepati janji saya.

Ps : ada nama saya pada salah satu tokoh di buku ini.

Untuk buku ini sudah cetak ulang lho, jadi kalian lebih mudah untuk mencarinya.

 

 

 

(Visited 132 times, 1 visits today)