
Penulis : Pradnya Paramitha
Diterbitkan 2020 oleh PT Gramedia Pustaka Utama – M&C
Sinposis :
Jatuh Cinta pada Langit Aswandru itu mudah. Bahkan sejak pertama kali bertemu, Raira Sore Pambayun sudah menemukan getaran di hatinya.
Awalnya semua terasa sempurna karena langit juga membalas perasaanya. Namun segalanya berubah saat Raira tahu Langit telah menghamili sahabatnya sendiri.
Riara yang patah hati, menyingkir dari kisah cintanya yang usai bahkan sebelum dimulai. Tapi situasi menjadi rumit karena Langit tidak membiarkannya pergi.
Ada rasa yang berbeda ketika buku ini terbit, yaitu rasa haru dan kecewa. Haru karena akhirnya penantian akan terbitnya buku ini terbayarkan, dan kecewa karena biasanya setiap kali karya dari Pradnya terbit sudah menjadi ritual bagi saya untuk mengunjungi toko buku untuk mengambil foto – foto atas buku beliau, namun kondisi saat ini yang masih tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut membuat saya harus puas dengan menuangkan dengan bentuk tulisan.
Review :
Gila!! Itulah kalimat terakhir yang terlintas dipikiran saya ketika selesai membaca buku ini. Word Building penulisnya “jahat” dan bisa menggiring opini sampai saya merasa bingung, kesal, marah, tetapi juga simpati atas tokoh – tokohnya. Sifat asli para tokohnya tidak diperlihatkan langsung di awal tetapi kita harus menembus satu per satu lapisannya untuk mengetahuinya. Semakin mendekati akhir, konfliknya menjadi semakin intense disertai pula dengan sebuah fakta yang tidak terduga.
Buku ini menggunakan sudut pandang Raira, dalam penceritaanya dimana saya bisa merasakan kemiripan sifat saya dengan Raira, yaitu sama – sama impulsif. He..he..he.. Celetukan dalam hati Raira, yang membuat saya tertawa bahkan maupun meringis.
Minta maaf, lebaran masih lama Kak.
Meet our Hero, Langit. Gimana yah mendeskripsikan tentang Langit? Sejujurnya saja kesal dengan sikapnya, yang menurut saya serakah, plin plan dan menganggap semua masalah yang berhubungan dengan dirinya adalah tanggung jawabnya. Langit juga digambarkan sebagai everybody man.
Langit Aswendaru itu nggak punya waktu untuk mikirin dirinya sendiri. Langit selalu tenang dan ekspresinya terkontrol.
Tetapi Langit juga manis dan Loveable, dia ingat hal – hal kecil tentang Raira dan orang pertama yang datang waktu Raira sakit.
Apakah tokoh romansanya hanya Raira dan Langit? Oh tentu tidak, ada juga Bang Yos sang pencuri perhatian, si ‘cowok cantik’ yang bisa membuat perempuan di sekitarnya minder. Interaksi antara Yos dengan Raira juga menghibur.
Tanpa menjawab kalimatku, Yos merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan ponselnya. Sejenak dia mengetik sesuatu di sana. Nggak lama kemudian, kurasakan getaran di ponselku. Mataku seperti mau copot saat kudapati chat dari Yos : Nice info. Thanks.
Di buku ini tidak hanya menceritakan tentang Raira dan Langit saja tapi juga dengan orang – orang di sekitar mereka. Saya penasaran dengan kisah adiknya Raira dan Senja.
Tema yang diangkat pada buku ini menurut saya sangat pas dengan situasi saat ini terutama masalah yang dihadapi oleh Senja. Sering kali kita terjebak dengan sesuatu yang dianggap ‘normal’ tetapi tidak seharusnya dilakukan atau tanpa sadar kita ikut menghakimi.
Karena pertama – tama dia pasti akan ditanya pakaian apa yang dikenakan, jam berapa dia berada di sana, untuk apa dia berada di sana dan pada akhirnya apakah dia menikmati hubungan itu?
Lalu tentang Langit yang menjadi ‘everybody man’ yang selalu menunjukan ekspresi senang, dan bahagia padahal dia juga manusia biasa.
Langit selalu sembunyi saat dia bersedih. Aku benci pribadi Langit yang seperti itu. Bagaimana cara memberitahunya bahwa dia itu juga manusia biasa? Kalau dia berhak sedih, marah dan kecewa? Kalau dia juga berhak menunjukan bahwa dia nggak baik – baik saja? Kalau dia nggak perlu sembunyi untuk menampilkan emosinya ini?
“It’s okay to be not okay, sebuah pengingat untuk diri saya sendiri”
Overall saya suka banget dengan buku ini. Mulai dari perkembangan karakternya, tema yang diangkat, kalimat – kalimat yang quotable, penyelesaian masalah serta ending yang realistis.
Cinta pun harusnya tetap berjarak. Jarak ini adalah penghargaan dan ketulusan sehingga orang yang dicintai tetap dipandang sebagai pribadi yang utuh, dengan segala hak – hak dan kedudukan yang setara. Bukan seperti barang yang kita miliki sehingga apa pun dari dirinya adalah hak kita.